ANALISIS

Wakil Menteri Energi Prof. Widjajono Partowidagdo

Bangsa yang Hemat dan Cerdas

Mengkonsumsi energi yang mahal, tetapi membiarkan energi murah yang dimiliki adalah bodoh.

ddd
Senin, 9 April 2012, 09:35 Prof. Widjajono Partowidagdo
Prof. Widjajono Partowidagdo
Prof. Widjajono Partowidagdo (VIVAnews/ Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - Perlu diketahui bahwa pendapatan pemerintah dari minyak kita habis untuk subsidi harga BBM. Produksi minyak 930.000 barel per hari dan harga minyak $105 per barel dengan kurs Rp9.000 per dolar AS menghasilkan pendapatan sebesar: 60% (bagi hasil untuk pemerintah) x 930.000 barel per hari x 365 hari per tahun x $105 per barel x Rp9.000 per dolar AS = Rp205 triliun.

Subsidi BBM dengan asumsi harga BBM naik Rp1.500 per liter saat harga minyak mentah $105 per barel adalah Rp137 triliun dan kalau harga BBM tidak naik maka subsidinya Rp 178 triliun. Dengan subsidi listrik Rp 60 triliun yang diakibatkan oleh naiknya harga BBM mengakibatkan seluruh pendapatan pemerintah dari minyak hampir habis (sisa Rp 8 triliun) untuk subsidi harga BBM, apabila harga BBM dinaikkan Rp1.500 per liter. Bahkan apabila harga minyak tidak dinaikkan maka defisit kurang Rp33 triliun.

Asumsi harga minyak $90 per barel (APBN 2012) membutuhkan subsidi $123 triliun. Artinya kenaikan harga $15 per barel mengakibatkan kenaikan subsidi Rp55 triliun atau setiap kenaikan $1 per barel mengakibatkan penambahan pengeluaran 55 per 15 atau Rp3,67 triliun. Bayangkan kalau harga minyak naik $ 25 per barel atau lebih. Sehingga kita harus serius melakukan penghematan.

Penghematan yang serius dapat dilakukan dengan penghematan subsidi harga BBM di mana subsidi lebih diutamakan untuk yang membutuhkan. Penghematan pemakaian energi baik dengan teknologi maupun penggunaan transportasi umum, bisa dilakukan melalui langkah-langkah berikut:

Pertama, perlu peraturan bahwa Pertamax wajib untuk mobil pribadi 1.500 cc ke atas.

Kedua, perlu peraturan bahwa Premix wajib untuk mobil pribadi dibawah 1500 cc. Premix adalah campuran 50% Premium dan 50% Pertamax dengan harga rata-rata di antara kedua bahan bakar itu. Cara lain adalah mobil pribadi di bawah 1.500 cc harus membeli Pertamax dulu sebelum membeli Premium dalam jumlah yang sama di SPBU.

Ketiga, perlu peraturan bahwa Premium hanya untuk angkutan umum dan sepeda motor.

Keempat, penghematan untuk bensin sampai di atas 30 persen dengan alat bernama HHO. Alat seharga Rp800 ribu ini ditemukan oleh Prof. Djoko Sungkono dari ITS.

Kelima, penghematan untuk diesel dengan larutan Penghemat BBM SF Turbo 1 ditemukan oleh Pak Faisal dari Palembang. Ini bagus untuk transportasi umum dan truk, termasuk truk batubara.

Keenam, penggunaan tabung LPG 3 kg untuk nelayan melaut perlu disebar luaskan.

Ketujuh, transportasi umum mobil ditingkatkan kuantitas maupun kualitasnya supaya masyarakat mau pindah dari menggunakan kendaraan pribadi pada hari-hari kerja ke transportasi umum dan hanya menggunakan pada akhir pekan. Busway di Jakarta memerlukan armada yang jauh lebih banyak.

Kedelapan, pemakaian kereta api ditingkatkan kuantitas maupun kualitasnya, baik untuk dalam kota maupun antar kota termasuk untuk angkutan barang dan batubara.

Kesembilan, Medco memberi converter kit untuk CNG (Compressed Natural Gas) yang harga keekonomiannya Rp4.100 per liter (kalau disubsidi Rp1.000 maka harganya Rp3.100) untuk stafnya, dan menyediakan bus kantor untuk pegawainya. Kalau kebanyakan perusahaan berperilaku seperti Medco, maka Jakarta tidak macet. Daerah luar Jawa penghasil Migas bisa beralih ke BBG lebih cepat.

Kesepuluh, perlunya penghematan pemakaian listrik dengan memakai lampu dan peralatan hemat energi dan mematikannya apabila tidak diperlukan.

Kesebelas, Kamis 5 April 2012 Wakil Menteri Perhubungan dan penulis mengunjungi SPBG di Surabaya. Pak Marsaid, Technic & Operation Director CNG pemilik SPBG (Mother Station) menjelaskan bahwa SPBU dapat digunakan untuk Daughter Station BBG dengan mengijinkannya menjual BBG. Untuk itu hanya dibutuhkan lahan 3m x 6m buat menaruh trailer dan dispenser. Keuntungan dibagi antara Mother (Ibu) dan Daughter (Putri) Stations.

Pak Marsaid juga menganjurkan Subsidi Rp 1000 per LSP (liter setara premium) untuk CNG supaya harga jualnya masih menarik walaupun harga BBM subsidi Rp4.500. Subsidi gas Rp1.000 jauh lebih menghemat dari subsidi BBM Rp5.000 (harga Premium tanpa subsidi Rp9.500).

LNG dari luar Jawa dapat diterima oleh trailer-trailer LNG (tanpa diregasifikasi menjadi CNG) di pelabuhan. Mengangkut LNG (cair) ke konsumen membutuhkan ruangan lebih sedikit dari mengangkut CNG. Juga dianjurkan menggunakan LNG untuk truk maupun transportasi umum jarak jauh di Jawa, Kalimantan Timur, dan Sumatera Selatan. Mohon diingat bahwa pengalihan minyak tanah ke LPG di masa lalu menghemat lebih dari Rp50 triliun per tahun. Saat ini tidak ada yang mau menggunakan minyak tanah untuk memasak apabila ada LPG.

Keduabelas, memaksimalkan pemanfaatan batubara, panasbumi, air, bioenergi untuk listrik dengan diatasi kendala-kendalanya. Harap diingat bahwa biaya listrik dari batubara, panasbumi dan air hanya seperempat biaya listrik dari BBM.

Ketigabelas, 11 Maret 2012 Wakil Menteri Pertanian dan penulis mengunjungi Pesantren Sunan Drajat di Lamongan dan melihat pengembangan Kemiri Sunan di sana. Kemiri Sunan ini di samping baik untuk penghijauan sehingga mencegah banjir dan tanah longsor juga buahnya bisa dibuat biodiesel. Pesantren mempunyai jaringan di seluruh Indonesia dan menurut informasi jumlahnya sekitar 20.000 di Indonesia. Memaksimalkan pemanfaatan kemiri sunan untuk reklamasi tambang, penghijauan dan energi (biodiesel).

Keempatbelas, memaksimalkan pemanfaatan energi surya, angin, arus laut, mikro hidro untuk daerah-daerah terpencil terutama Indonesia Bagian Timur.

Kelimabelas, akan lebih banyak uang yang dihemat apabila kita bisa meminimalkan korupsi, kolusi, dan nepotisme, mengoptimalkan penerimaan pemerintah dan mengefisienkan pengeluaran pemerintah.


Kesimpulan

Dulu, waktu harga BBM Rp6.000 per liter sudah banyak yang berpindah ke busway dan transportasi umum. Begitu harga BBM Rp4.500 per liter maka orang kembali naik kendaraan pribadi lagi. Orang tidak menghemat energi tetapi menghemat uang.

Program konversi minyak tanah ke BBG berhasil karena subsidi minyak tanah dihilangkan. Program jarak pagar dan konversi premium ke BBG belum berhasil karena premium harganya Rp4.500 per liter (disubsidi).

Kalau seseorang menyikapi kenaikan harga BBM dengan arif maka pengeluarannya justru berkurang. Di hari-hari kerja dia menggunakan transportasi umum dan hanya menggunakan mobil pribadi di akhir pekan untuk silaturahmi. Pengguna transportasi umum adalah patriot karena menghemat uang negara, menghemat energi dan polusi.

Penghematan pemakaian premium di atas 30 persen dengan memakai HHO seperti dengan alat seharga Rp800 ribu yang disediakan Prof. Djoko Sungkono dari ITS perlu dan cara penghematan energi lain dan budaya hemat energi perlu digalakkan. Penggunaan tabung LPG 3 kg untuk nelayan melaut perlu disebar luaskan.

Naiknya harga BBM justru akan menyebabkan energi lain, yaitu batubara, gas, panasbumi, air, bioenergi, dan energi baru (misalnya coal bed metane dan shale gas) dan terbarukan lainnya banyak dibutuhkan dan diproduksikan yang akan memberikan lapangan kerja, penghasilan dan pertumbuhan ekonomi serta berkembangnya daerah-daerah terutama di luar Jawa.

Ketergantungan yang berlebihan terhadap minyak dan luar negeri adalah ketidakmandirian. Tidak menggunakan energi yang kita miliki secara optimal adalah tidak bijaksana. Mengkonsumsi energi yang mahal tetapi tidak mengkonsumsi energi murah yang kita miliki adalah kebodohan.
Cara meminimalkan subsidi BBM untuk transportasi dan listrik adalah dengan sesedikit mungkin memakai BBM. Dengan demikian, kita mempunyai dana lebih banyak untuk membuat Indonesia lebih cepat menjadi negara terpandang di dunia. Dengan mengurangi ketergantungan kepada BBM maka Insya Allah Indonesia menjadi lebih baik. (eh)


Prof. Widjajono Partowidagdo (pendapat pribadi), Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

 

 


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
ooo1
19/04/2012
We also have to move faster in overcoming electricity shortages to increase production and create jobs and growth, and ensure that the transitional burden does not fall disproportionately on the weaker groups
Balas   • Laporkan
kun19
14/04/2012
kita ini bangsa yg sehat dan cerdas? Gimana caranya kalau biaya pendidikan aja banyak yg dikorupsi dan perguruan tinggi tdk terjangkau, kalau sehat saya percaya "Pak"! soalnya kalau sakit kita tidak kedokter tapi ke dukun, Dokter mahal...
Balas   • Laporkan
goumez
14/04/2012
Yang Mendasar sekali itu bukan kondisi sekarang prof ... tetapi kebijakan yg diambil dan dilakukan sekarang ini ... APAKAH ANDA BISA MENOLAK KALAU DIKATAKAN KEBIJAKAN SEKARANG ADA DIBAWAH KENDALI ASING?
Balas   • Laporkan
dekwis
13/04/2012
intinya: Politik yg amburadul, orangnya yg sok pintar, menyebabkan negara kacau oleh orang yg hanya ingin menang nya sendiri. Kasian orang2 pintar yg benar2 ingin memajukan negara ini.
Balas   • Laporkan
kikidikkie
12/04/2012
knaikan bbm gak lain utk kpentingan politik pmilu 2014... pak wamen baiknya anda mundur aja dr wamen, syg org spandai dan speduli kayak Bpk hrs mengabdi di pmrintahn yg kayak bgini, insya allah di pmrintahn yg akan dtg Bpk bisa jd 100% mntri, amin..
Balas   • Laporkan
intinya sebenarnya poin ke15. Kalo rakyat diminta berhemat tp pertamina sendiri jor-joran apakah ini yg dimaksud adil dan cerdas???
Balas   • Laporkan
fmanalu
12/04/2012
klu sdah dikasi ide sperti ini ,, mngapa pak wamen kmudian mngandai2 hrga bbm 6000 ?? pak wamen lucu jadiny ..
Balas   • Laporkan
dale
11/04/2012
Wacana adlh wacana, tp fakta yg ada gmna?? Tongkat, kayu jd tanaman... Mmg masy. kita tdk siap & terlalu dimanja dgn SDA. Cb liat negara kcl lainnya yg tdk pny SDA sprti Indonesia bs hidup makmur + buka SPBU di di negara kita. Andai... andai... andai...
Balas   • Laporkan
ikkyphoenix
11/04/2012
the right man in the wrong government
Balas   • Laporkan
iron maiden
10/04/2012
pak wamen itu sdh bukan levelnya lagi mengusulkan ini itu, langsung saja buat kebijakan dan buat keputusan, tiru saja brazil yg mengembangkan bioethanol
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru