Calon Gubernur DKI Hendardji Soepandji
"Segera Lakukan Revolusi"
Maju sebagai calon independen. Hendardji bermimpi tentang revolusi di DKI.
Hendardji Soepandji (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)
VIVAnews - Kesibukan kerap terlihat di sebuah rumah di Jalan Taman Gunawarman Barat No 25, Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Sejumlah orang tampak sibuk membuat bagan grafik, menyiapkan brosur dan pamflet.
Rumah dua lantai itu memang diperuntukkan sebagai markas Hendardji Soepandji dan Ahmad Riza Patria untuk mempersiapkan diri maju sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Tim sukses menamakan markas itu sebagai Bang Adji Center.
Sekilas tak ada yang istimewa dari Bang Adjie Center. Sejumlah foto, flyer dan tanda tangan dukungan bagi pasangan yang memilih jalur perseorangan itu terpampang di bagian depan dinding posko. Beberapa orang juga tampak sibuk dengan aktivitas membuat bagan grafik daerah pemenangan dan menyiapkan brosur berlatar biru bertuliskan 'Bang Adjie. Wujudkan Perubahan Jakarta'.
Purnawirawan Jenderal bintang dua ini memilih berbaur dengan masyarakat kecil di pinggiran kota untuk menjaring konstituennya.
Pria kelahiran Semarang 10 Februari 1952 itu menyambangi tempat-tempat kumuh seperti bantaran Kali Ciliwung, kawasan padat penduduk di Cakung, Pademangan, Tambora, Pluit hingga Kepulauan Seribu jadi lokasi favoritnya.
Dengan mengunjungi lokasi-lokasi tersebut, lulusan AKABRI tahun 1974 itu yakin akan mendapat inspirasi untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota megapolitan yang ramah lingkungan, manusiawi, berbudaya, aman, nyaman, tertib, modern dan sejahtera.
Bersama calon wakilnya, Ahmad Riza Patria, ayah dua orang putra ini berjanji akan merubah total Jakarta. Sejumlah program sudah disiapkannya guna membenahi Ibukota yang kian semrawut dan tidak tertata.
Menurut adik kandung mantan Jaksa Agung Hendarman Soepandji ini, Jakarta harus memiliki 30 persen ruang terbuka hijau dari luas wilayahnya. Untuk strategi kebijakan pembangunan, Adjie ingin menjadikan kawasan utara Jakarta sebagai Water Front City. Bagian Barat dan Timur Jakarta menjadi koridornya.
Sementara kawasan Jakarta Selatan dibatasi pengembangannya, karena harus dijadikan barrier eco system yang mengacu sebagai kawasan resapan. Konsep ini akan mengurangi secara bertahap banjir di Jakarta dengan ditambah upaya revitalisasi sungai-sungai yang mengalir di Jakarta.
Berikut petikan wawancara VIVAnews.com dengan Mayor Jenderal TNI (Purn) Hendardji Soepandji :
Kemacetan di Jakarta sebagai menu hari-hari, apa program Anda bila terpilih nanti?
Kuncinya adalah mengurangi kendaraan, caranya adalah transportasi massal. Itu kuncinya. Dan harus bisa cepat, makanya harus revolusi kerja cepat. Pemimpin itu harus kerja cepat turun ke lapangan pimpin revolusi itu sendiri. Segera lakukan revolusi, turun ke lapangan, jangan jadi ndoro tuan, tuan besar.
Pembatasan kendaraan pribadi itu konsepnya seperti apa?
Beli mobil boleh, Anda beli 100 mobil pun tidak masalah. Tapi yang keluar nanti akan dibatasi. Caranya yang belakangnya pelat 123 hanya bisa keluar hari Selasa. Di luar itu tidak boleh, apapun alasannya. Nanti yang punya kendaraan banyak akan rugi, bagaimana dia merawat terus tapi tidak bisa menggunakan.
Pengawasannya seperti apa?
Jakarta harus menjadi cyber city, tidak usah polisi banyak di jalan. Begitu nomor-nomor itu di jalan, ketahuan langsung ditangkap sinyalnya langsung ada.
Konsepnya dari mana?
Beijing itu cyber city, Singapura itu cyber city.
Kondisi masyarakat Jakarta juga semrawut?
Justru itu tata kotanya harus diremajakan, daerah yang kumuh dalam lima tahun harus terangkat derajatnya.
Target program dapat tercapai berapa tahun?
Lima tahun, karena masa jabatan juga hanya lima tahun. Jadi selama kurun waktu itu turun ke lapangan jangan hanya merintahkan staf. Bersama-sama staf dan rakyat membangun Jakarta.
Banyak janji ini-itu tapi pada akhirnya kan banyak yang tak terealisasi?
Ya karena gubernurnya ndoro tuan, tuan besar. Permasalahannya leadership, jangan biasa terima laporan dari bawahan. Gubernur itu harus melihat, menunggu sampah yang menggunung itu, biar dia menyium bau busuk sampah itu.
Anda siap seperti itu?
Siap 24 jam, kalau perlu saya berdiri di sampah yang tingginya puluhan meter, yang sampai satu minggu tidak digerakkan.
Kenapa memilih program itu?
Karena itu yang menjadi keluhan rakyat. Pengalaman birokrasi saya kan sudah 36 tahun. Saya sudah mengawasi seluruh Indonesia selama saya menjabat Komandan Puspom AD.
Jalan darat semua pulau saya telusuri dari Aceh, Lhoksumawe, Siantar, Padang semua jalan darat. Tidur hanya 2-3 jam, saya biasa mengontrol jam 1, 2 pagi.
Persoalan pusat perbelanjaan, lahan terbuka hijau, pemukiman kumuh juga menjadi persoalan Jakarta?
Ya tata kotanya perlu diberbaiki, ketersedian lahan terbuka hijau perumahan kumuh diperbaiki sehingga tersedia lahan terbuka hijau. Lahan terbuka hijau nantinya akan digunakan untuk hutan kota dan taman kota termasuk di situ nanti ada fasilitas publik, pasar tradisional. Jadi orang-orang tidak berduyun-duyun ke mal.
Lokasi pasar tradisional nantinya tidak bersebelahan dengan mal. Saya sangat menentang konsep itu. Sama saja mengadu orang kaya sama miskin, mereka kan segmentasinya berbeda.
Anda pernah menghitung jumlah mal?
Jumlahnya ada 170, sedangkan pasar tradisional 137. Golongan menengah ke bawah lebih banyak. Kalau malnya lebih banyak dibandingkan pasar tradisional, itu terbalik konsepnya. Semua bisa dihitung, jangan asal ngomong tapi turun ke lapangan lihat itu sungai kalau perlu masuk ke sungai bersihkan yang kotor-kotor itu. Kalau saya jadi gubernur saya pimpin sendiri revolusi hijau itu, untuk menghijaukan Jakarta ini.
Jika terpilih, di tahun ke berapa program Anda bisa terlihat?
Tahun ketiga sudah bisa dirasakan, tidak berarti tahun ketiga selesai, itu malaikat. Tapi perubahan itu terjadi pada tahun ketiga.
Selain kemacetan, pasar tradisional, ruang terbuka hijau, dan sampah, apalagi?
Keamanan, ini harus lebih baik. Salah satu tugas pemerintah kan melindungi warga negaranya. Saat ini saya tidak melihat bahwa pemerintah ini melindungi warga negaranya. Selain itu juga menyiapkan lapangan pekerjaan yang massif.
Lapangan pekerjaan yang massif itu seperti apa?
Pasar tradisional itu dikembangkan. Kalau sekarang 137, kembangkan menjadi 237 dalam lima tahun. Usaha Kecil Menengah dihidupkan, kaki lima ditata kembali, tapi tidak dijajarkan dengan mal. Sebab nanti dapat merusak malnya. Kaki lima ini kan supporting unit sebagi penopang di sektor informal. Setor informal itu tidak bisa dicampuradukkan dengan yang formal. Kalau sektor informal dimintai pajak jadinya malah kacau balau, tapi tetap harus ditata, dimanusiakan dan dibuatkan lahan.
Pemerintah harus membuatkan karena tugas pemerintah memberikan kemudahan bagi warga negara, tidak mempersulit.
Apa masih ada sisa lahan yang dapat dibangun di Jakarta?
Oh masih ada kalau mau berfikir. Tidak mau turun ke lapangan, turunnya hanya seremonial ya tidak bisa membaca denyut nadi keluhan masyarakat. Kalau saya terpilih tidak ada itu seremonial, wartawan tidak ekspose tak masalah. Saya berjuang untuk masyarakat Jakarta.
Konsep Anda untuk Kepulauan Seribu bagaimana?
Kepulauan Seribu itu harus dikembangkan menjadi wisata bahari. Olah raga seni dan budaya harus dihidupkan sehingga menjadi tujuan wisata bahari. Transportasi air harus digalakkan. Kalau perlu setiap jam berangkat dari teluk Jakarta transit ke pulau-pulau itu. Karena itu semua pulau harus ada dermaga, sekolah-sekolah ditata, begitu juga pasar tradisional. Sangat mungkin, secara simultan bisa terwujud.
Dari semua program, yang menjadi unggulan apa?
Program unggulannya revolusi hijau, karena itulah saya akan mimpin sendiri mensejahterakan rakyat, tidak ada rasa ketakutan.
APBD Jakarta kan luar biasa besarnya, kemungkinan celah untuk korupsi besar apa komitmen Anda?
APBD saya buka sehingga tidak ada celah buat korupsi, sekarang tertutup sehingga ada sisa anggaran Rp2 triliun dalam setahun, itu rawan berarti rendahnya produktifitas, rendahnya kinerja. Karena itu saya tingkatkan kinerja dan meningkatkan produktivitas.
Semua kebijakan pubik saya buka, korupsi-korupsi saya minimalis, sistem karcis bisa menimbulkan korupsi karena itu saya cari system online untuk mencegah korupsi, termasuk tender-tender. Kalau ada penyimpangan KPK tidak perlu ragu-ragu menangkap siapapun, termasuk kalau akan menangkap saya, saya terbuka. Siapapun silahkan tangkap kalau melanggar hukum, termasuk diri saya sendiri.
Kapan mulai gaet A Riza ?
Komunikasi itu empat hari sebelum diputuskan. Keputusannya ya sebelum pendaftaran itu.
Kenapa pilih A Riza?
Saya mencari generasi muda, karena saya hanya mau menjabat satu periode saja. Itu sudah selesai, umur saya sekarang 60 tahun nanti kalau menjabat selesai 65 tahun.
Di atas 65 itu sudah harus mundur, harus tahu diri beri kesempatan generasi muda untuk tampil. Saya berharap wakil saya nanti bisa meneruskan program yang saya tempuh.
Saya hanya satu periode selesai. Umur 66 itu sudah tidak mungkin enerjik, karena enerjik produktivitas itu berbading lurus dengan usia.
Katanya sempat ada penolakan dari Riza?
Tidak ada penolakan, dia yang datang kemari bukan saya yang datang ke dia. Dia datang di antar temannya diperkenalkan kepada saya. Dan dia pertama kali datang ke sini bukan saya panggil, saya inginnnya generasi muda yang sudah banyak pengalaman.
Sebelum A Riza ada pilihan lain?
Ada. Ustad Yusuf Mansur, dan banyak yang lain. Saya komunikasi selama tujuh bulan dengan Yusuf Mansur, tapi akhirnya beliau tidak bersedia, beliau hanya mendukung saja.
Riza kabarnya deklarator ormas Nasional Demokrat, mau gaet suara Nasdem?
Mudah-mudahan, tapi saya tidak mengerti dia deklarator Nasdem, MKGR, saya tidak tahu. Tahunya hanya dia aktivis dan pengusaha.
Referensinya dari mana?
Muhlisar, teman yang mengantarkan kesini.
Yang membuat Anda cocok dengan A Riza?
Visi misinya. Saya jelaskan dan sampaikan ke dia dan dia bersedia menjadi cawagub, mengabdi untuk kepentingan rakyat.
Lawan yang paling berat?
Semua calon berat, karena semua punya pengikut. Cuma incumbent yang paling kuat untuk bisa menggunakan uang negara. Dengan menggunakan uang negara sudah kampanye, karena pasti ada uang negara yang masuk ke Humas itu kan uang negara.
Sumber dana tim sukses Anda dari mana? Berapa?
Dananya iuran, dari kenalan teman aja, tapi mereka tidak mau disebutkan namanya. Pengusaha kecil-kecil saja. Kalau sekarang modalnya belum ada, sambil berjalan aja iurannya.
Anda sendiri menyumbang berapa?
Tidak usah disebut yang penting iuran.
Anda kan calon independen, artinya masih ada kewajiban melengkapi kuota KTP, optimis lolos?
Sudah ada 30 ribu nanti saya serahkan. Tidak ada kendala
Menurut Anda apa transportasi massal?
Kalau sekarang belum ada, busway itu tranportasi publik. Kalau transportasi massal itu sekali angkut ribuan orang, sehari jutaan manusia. Kalau di dalam kota MRT (Mass Rapid Trans) itu. Hanya kalau transportasi massal ini kan tidak sampai ke daerah-daerah kelurahan maka dikoneksikan diintegrasikan dengan transportasi publik seperti busway tadi, karena tidak mungkin MRT itu sampai di daerah-daerah kelurahan tadi. (eh)
- Info Momentum
- Misteri Persamaan Kasus Pembunuhan Mary Ashford dan Barbara Forrest
- Corpse Candle, Menguak Misteri Lilin Kematian
- Misteri Dimensi Pararel di Segitiga Bennington
- Kebetulan yang Menakjubkan dalam Kematian
- 5 Pasangan Ayah dan Anak Menjadi Presiden
- Join [Game] Team A vs Team B
- FOTO Kegiatan Harian Pesumo di Jepang



