WAWANCARA
ANALISIS
Kejahatan Brutal dan Tekanan Sosial-Ekonomi
Kekerasan semasa kecil dipercaya sebagai faktor pemicu anarki.
Rabu, 13 Maret 2013
Oleh : Nezar PatriaYulina Eva Riany

VIVAnews - Sejumlah kasus amoral, brutal, dan sadisme terutama di kota besar, kian marak belakangan ini. Sebut saja peristiwa kekerasan seksual pada anak perempuan oleh ayah kandungnya sendiri, hingga kasus pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan suami sendiri. Semua  menggambarkan kian tingginya tingkat penyimpangan norma di masyarakat kita.

Meskipun faktor penyebab terjadinya aksi kekerasan dan kasus amoral tersebut sangat bervariasi, gangguan psikologis akibat tekanan sosial dinilai sebagai salah satu faktor pemicu berbagai tindakan brutal itu. Kondisi psikologis depresi, stres akibat kondisi ekonomi (pengangguran, terlilit hutang), stres akibat masalah pribadi (kematian anggota keluarga, perceraian, gangguan mental) dipercaya dapat menjadi faktor dorongan bagi seseorang bertindak di luar aturan dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Durkheim (1893) dalam bukunya yang berjudul Division of Labor In Society menjelaskan adanya proses modernisasi di dalam masyarakat dipercaya sebagai faktor penyebab terjadinya kemandulan fungsi norma sebagai kontrol perilaku masyarakat. Durkheim menjelaskan modernisasi telah menciptakan suasana kompetisi tinggi yang berimplikasi pada menguatnya perbedaan kelas sosial ekonomi antara miskin dan kaya di dalam masyarakat. Kondisi tersebut menstimulasi fenomena anomie atau ketidaktaatan sosial terutama di masyarakat ekonomi lemah di perkotaan.

Tingginya tuntutan kehidupan metropolis itu kian membuat kalangan ekonomi lemah di  kota kehilangan akses menyalurkan kepentingan dan potensi stres dalam usahanya untuk mencari kesempatan mencapai tujuan hidup. Tidak adanya penyaluran stres memunculkan ketegangan psikologis pada diri seseorang, yang jika tidak diantisipasi akan berpotensi melahirkan gangguan psikologis, seperti frustasi, depresi, dan tingkat stres tinggi pada masyarakat.

Eric Fromm melalui teori psikoanalisis humanistiknya menjelaskan bahwa adanya masalah psikologis yang disebabkan oleh tekanan dari luar pada dasarnya adalah sebuah rangkaian usaha manusia untuk mempertahankan sifat dasar kemanusian itu sendiri (rasa cinta dan benci, sedih dan senang, dan lain-lain).

Fromm meyakini bahwa manusia yang pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk menunjukkan jati dirinya sebagai manusia akan berusaha keras untuk mencapai tujuannya meski dalam situasi sesulit apapun (termasuk dalam menghadapi tekanan sosial dan ekonomi). 

Namun, seringkali akibat adanya keterbatasan kemampuan mengakses sarana, sebagai bentuk perjuangan mengekspresikan kemanusiannya, seseorang dapat berlaku menindas dirinya sebagai aksi inferioritas.

Bahkan, lebih fatal lagi adalah adanya tindakan sadisme sebagai aksi superioritas terhadap orang lain. Hal itu dilakukan sebagai bentuk pelarian diri dalam kondisi ketidakberdayaannya menghadapi tekanan dari luar sebagai bentuk penyerahan individualitas dan usaha menghancurkan orang lain. Sehingga tindakan amoral, brutal, dan sadisme seringkali menjadi bentuk upaya pengekspresian sifat kemanusiaan tersebut.

Selain itu, pengalaman memperoleh tindakan kekerasan semasa kecil dipercaya sebagai faktor pemicu tindakan anarki lainnya. Penelitian menujukkan seseorang akan cenderung bertindak anarki apabila pernah memiliki pengalaman serupa ketika usia kanak-kanak (Australian Bureau of Statistics, 1997).

Tindakan kekerasan yang diperoleh ini dapat berupa kekerasan fisik maupun kekerasan psikologi. Hal ini disebabkan oleh adanya proses perekaman oleh otak bawah sadar tentang kondisi tidak menyenangkan, sehingga menyebabkan semakin tingginya kecenderungan untuk melakukan hal yang serupa terhadap orang lain.

Namun parahnya, orang terdekatlah yang biasanya menjadi korban tindakan kekerasan itu. Hal ini disebabkan interaksi intensif yang pada umumnya terjadi bersama anggota keluarga sehingga kemungkinan orang terdekat menerima sasaran tindakan anarkis lebih besar dibanding orang lain di luar keluarga.

Kondisi ini kian diperburuk dengan adanya kepercayaan masyarakat kita bahwa tindakan kekerasan di dalam keluarga merupakan aib yang tidak boleh diketahui orang lain. Sehingga, situasi itu semakin memberikan ruang bagi pelaku kekerasan menjalankan aksinya kepada anggota keluarganya, meliputi suami, istri, dan anak-anak.


Yulina Eva Riany adalah kandidat Doktor bidang Psikologi Pendidikan dan Ilmu Rehabilitasi Kesehatan di The University of Queensland, Australia, juga Dosen Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB)

TERKAIT
TERPOPULER