Booming, Tinggal Tunggu Waktu"" /> Cloud Akan Booming, Tinggal Tunggu Waktu - US
WAWANCARA KHUSUS

Presiden Direktur IBM Indonesia, Suryo Suwignjo

"Cloud Akan Booming, Tinggal Tunggu Waktu"

Beberapa menyebutnya dengan istilah yang lebih lokal. Komputasi awan.

ddd
Kamis, 9 Mei 2013, 00:05 Muhammad Chandrataruna, Tommy Adi Wibowo
Suryo Suwignjo, Presiden Direktur IBM Indonesia
Suryo Suwignjo, Presiden Direktur IBM Indonesia (VIVAnews/Tommy Adi Wibowo)

VIVAnews - Cloud computing. Meski istilah asing, belakangan namanya semakin santer terdengar di kuping. Beberapa menyebutnya dengan istilah yang lebih lokal. Komputasi awan.

Bagi sebagian kecil masyarakat awam, nama Cloud mulai akrab di telinga. Umumnya, mereka mengenali Cloud sebagai teknologi penyimpanan data virtual atau digital di Internet. Seperti kotak surat elektronik di Gmail dan Yahoo Mail, atau foto-foto yang diunggah di Instagram dan Facebook.

Tapi, bagi sebagian besar orang, Cloud tidak lebih dari istilah komputer yang rumit. Sulit dipahami. Padahal, hampir pasti Anda salah satu penggunanya.

Facebook atau e-mail. Setidak-tidaknya, Anda pasti mempunyai satu akun di antara keduanya. Sadarkah, ketika menyimpan dokumen dan file di Internet, Anda tidak dipungut biaya alias cuma-cuma? Ya, gratis.

Pernahkah terbesit di benak Anda, lokasi server e-mail tempat dokumen dan foto-foto Anda disimpan? Betul, di Internet, menggunakan teknologi Cloud. Sehingga, tak perlu sewa server, apalagi data center. Semua itu diurus oleh perusahaan-perusahaan penyedia jasa, seperti Google, Yahoo, dan Facebook. Anda tinggal pakai.

Itu hanya sekelumit gambaran sederhana tentang Cloud. Teknologi yang tak kasat mata, tapi fundamental. Bahkan dipakai sehari-hari oleh kita. Namun, adopsi teknologi itu masih minim di Indonesia. Mengapa? Apa yang menjadi kendala?

Presiden Direktur IBM Indonesia, Suryo Suwignjo, berbagi cerita pada VIVAnews seputar perkembangan teknologi Cloud di Tanah Air. Dimulai dari definisi ringkas tentang Cloud, karakter, sejarah, lika-liku, sampai kendala yang dihadapi perusahaan sekaliber IBM dalam menjajakan solusi itu.

Konon, adopsi Cloud tak hanya lamban di Indonesia saja, tetapi juga dunia. Benarkah begitu? Berikut cuplikan bincang-bincang VIVAnews dan Suryo Suwignjo saat berkunjung ke kantor IBM, beberapa waktu lalu:

Bagaimana Anda menjelaskan Cloud pada masyarakat awam?

Banyak yang menanyakan, apakah ini (Cloud) adalah teknologi yang benar-benar baru atau tidak.

Sebenarnya, dibilang baru sekali juga tidak. Di masa lalu, namanya utility computing, atau great computing. Kalau dilihat secara konsep, mekanisme pembiayaan dan penggunaannya mirip. Cuma sekarang nama populernya Cloud computing.

Ini juga menjawab pertanyaan sebagian orang, kalau memang baru, biarlah dia mapan dulu. Setelah stabil, baru dicoba. Padahal, sebenarnya ini adalah evolusi dari teknologi yang sebelum-sebelumnya.

Secara sederhana, komputasi Awan dibagi menjadi dua jenis, yaitu private dan public. Private Cloud, yaitu komputasi Awan di dalam perusahaan itu sendiri. Misalnya, di sebuah perusahaan yang sangat besar, konglomerasi, mempunyai beberapa anak perusahaan. Nah, anak-anak perusahaan ini memiliki satu infrastruktur IT, sehingga lebih praktis dan efisien di segi biaya dan energi. Itulah Private Cloud.

Jenis lainnya, Public Cloud. Seperti konsumer, jenis satu ini berhubungan dengan Public Cloud Provider. Contoh paling sederhana dan mudah dimengerti, adalah ketika Anda menggunakan e-mail di Gmail atau Yahoo Mail.

Di situ konsep Public Cloud paling mudah. Google dan Yahoo pemilik Cloud, membolehkan Anda membuka e-mail di situ, mendapat kuota e-mail, gratis, dan bisa dipakai kapan saja. Hari ini, adopsi Cloud seperti itu sangat mudah diterima di Indonesia. Alasannya simple, karena gratis.

Kalau berbayar, US$10 saja sebulan, saya kira penggunanya akan "lari." Jadi, sebetulnya Public Cloud dalam konsep sederhana itu adopsinya sudah luar biasa besar, massif. Namun, penelitian tentang Cloud yang lebih kompleks, adopsinya belum terlalu tinggi.

Ada juga, Hybrid Cloud, yang merupakan gabungan antara keduanya. Teknisnya, seperti Google Drive. Beberapa perusahaan di Indonesia sudah mengadopsi Cloud jenis ini.

Misalnya, seorang direktur ingin mendapatkan data produksi di seluruh indonesia melalui Google Maps. Mudah. Tinggal klik kota yang diinginkan di peta, misalnya Medan, maka muncul data produksi perusahaan di Medan secara lengkap. Data tetap tersimpan di internal perusahaan di Medan. Jadi, direktur hanya membacanya saja dengan aplikasi. IBM punya tools yang memungkinkan hal itu. Bisa di-customize.

Apakah datanya tersimpan di Google Maps? Tidak. Karena kita memakai aplikasinya saja, sementara data-datanya tidak dipindahkan ke server Google, tetap di internal.

Apa yang menjadi kendala hingga adopsi Cloud di Indonesia lamban?

Pertama adalah bandwidth. Beberapa tahun yang lalu, ketersediaan bandwidth jadi persoalan utama. Internet lelet. Unggah atau unduh data bandwidth-nya kecil. Unduh satu file saja, nunggunya lama sekali. Bahkan, sering lost in transmission alias terputus, minta di-resend lagi. Bandwidth ini jadi persoalan yang mendasar.

Nah, kedua, transmisi data. Berbicara data, berarti bicara biaya. Dulu Internet masih mahal. Sekarang, speed sudah bagus, biayanya juga terjangkau. Dengan harga yang sama dengan beberapa tahun lalu, value mulai bertambah, response time-nya juga.

Saya rasa itu jadi faktor utama yang membuat market behavior berubah. Kalau dulu, belum mencoba saja, orang sudah males duluan. Sekarang, kendala ini perlahan-lahan mulai teratasi.

Ketiga, faktor keamanan. Banyak yang bertanya-tanya, "kalau saya masuk ke Cloud, datanya aman nggak? Yang ditaruh itu kan data perusahaan. Kalau bocor, bagaimana?"

Sebetulnya, kalau Anda melihat antara Public Cloud dan Private Cloud, risiko yang dihadapi tidak jauh berbeda. Server milik Pak SBY pun pernah disusupi, ya, private company juga bisa.

Tentunya Public Cloud lebih rawan. Kalau tahu itu rawan, menjaganya ya lebih ketat. Di saat yang sama, kami juga memberikan keamanan yang berlapis-lapis. Itu sudah teruji.

Keempat, isu penegakan hukum. Di AS, pelaku kejahatan langsung dihukum di depan pengadilan. Ada efek jera. Tapi, di Indonesia, terkadang hukum terlalu ringan. Pelakunya tidak akan jera.

Kekhawatiran-kekhawatiran seperti itu kerap muncul.

Lalu, bagaimana Anda menyiasati agar adopsi Cloud tetap tinggi?

Saya punya satu pengamatan, yang menurut saya belum pernah dibahas di forum-forum Cloud. Adopsi Cloud masih rendah dikarenakan rata-rata pengambil keputusan di perusahaan adalah orang yang hidup di beberapa generasi lalu.

Seperti kartu ATM. Contohnya, saya sendiri. Waktu saya muda, konsep mengambil uang adalah mengambil di kantor cabang. Mengantre di teller, mendapat uang, lalu diminta menghitung uang sebelum meninggalkan teller. Dulu, situasinya kartu ATM belum ada.

Suatu ketika, kartu ATM muncul. Kekhawatiran saya dan orang-orang yang hidup di zaman itu sama: "bagaimana kalau uang yang keluar dari mesin itu kurang?" Sehingga, orang-orang masih ragu dengan ATM.

Hari ini, hampir semua orang memakai ATM. Dan, hanya beberapa orang yang menghitung uang saat meninggalkan mesin ATM. Sedikit sekali.

Nah, sekarang, Cloud ada di tahap transisi. Jika pengambil keputusan di perusahaan adalah generasi sebelum Cloud, maka rata-rata akan merasa gamang untuk mencoba duluan. Coba jika mereka lahir di zaman Cloud sudah ramai, mereka tidak gamang. Tidak ada masalah lagi.

Ini hanya masalah waktu. Kegamangan yang membuat adopsi Cloud tidak secepat yang diinginkan. Apakah ini hanya terjadi di Indonesia? Tidak juga. Di luar negeri pun sama. Butuh waktu.

Ada yang bilang, adopsi Cloud di luar negeri sudah 90 persen. Itu patut dipertanyakan. Lebih cepat dari Indonesia, iya. Tapi, dibilang super cepat, nggak juga.

Saya yakin, orang akan mengarah ke Cloud. Tapi, memang diperlukan proses edukasi pasar. Dan, teknologi ini semakin lama semakin matang. Keamanannya makin bagus, penggunaan bandwidth semakin optimal. Di saat itu lah, Cloud akan booming.

Suryo Suwignjo, Presiden Direktur IBM Indonesia     Suryo Suwignjo, Presiden Direktur IBM Indonesia

Suryo Suwignjo ketika berbincang-bincang dengan VIVA di kantornya, Jakarta. (VIVA/Tommy Adi Wibowo)

Apa solusi Cloud yang ditawarkan IBM?

Di Indonesia, kami berani mengklaim sebagai satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mempunyai solusi Cloud terlengkap.

Pertama, infrastruktur mencakup data center dan peranti keras (server). Jika punya solusi ini, Anda bisa menyewakan infrastruktur itu pada end-user atau perusahaan-perusahaan di bawah merek Anda sendiri. Misalnya, Amazon EC2.

Kedua, platform, yakni solusi pertama ditambah platform komputasi yang biasanya termasuk sistem operasi, bahasa pemrograman, database, dan Webserver. Contoh, Force.com atau Google App Engine.

Ketiga, software, yaitu solusi kedua plus peranti lunak (aplikasi). Misalnya, Anda ingin membuat aplikasi seperti Google Docs atau Office 365.

Lalu, keempat, solusi ketiga plus operasional. Artinya, kami (IBM) juga bertanggung jawab untuk IT admin untuk pengguna.

Seberapa besar efisiensi biaya operasional (OPEX) di sisi pelanggan dalam persentase?

Di portofolio IBM, ada lebih 100 macam produk yang berkenaan dengan Cloud. Artinya, eksekusi Cloud akan bergantung pada workload yang ingin di-Cloud-kan.

Kebutuhan Cloud untuk tiap perusahaan berbeda-beda, bergantung pada skalanya. Sebagai gambaran, untuk area server dan storage penurunan OPEX bisa mencapai 15-55 persen, bahkan pada kasus transformasi di internal IBM, angka itu mencapai hingga 85 persen. Besaran investasinya akan beragam sesuai produk Cloud yang dipakai.

Siapa yang paling diuntungkan dengan teknologi ini?

Usaha kecil menengah. Terutama untuk Public Cloud. Kenapa? Karena orang-orang yang dulunya tidak bisa menikmati layanan-layanan TI yang canggih, sekarang bisa. Semua infrastruktur nantinya tersedia dengan harga yang relatif terjangkau disediakan oleh penyedia layanan Public Cloud.

Bagaimana contohnya?

Oke. Contohnya, aplikasi X untuk departemen SDM di perusahaan konglomerasi. Sebut saja Astra Internasional. Aplikasi SDM itu mempunyai standar sederhana, seperti mencatat penggajian, kenaikan pangkat, asuransi, dan sebagainya. Karena semua kantor punya standar SDM yang sama, supaya mudah dan efisien, aplikasi X ditaruh di Cloud, dan dipakai bareng-bareng oleh semua anak perusahaan Astra. Itu sudah terjadi di beberapa perusahaan hari ini. Namanya, Private Cloud.

Tapi, kalau aplikasi X ditaruh di Public Cloud, dan ditawarkan oleh penyedia layanan Public Cloud pada UKM-UKM, itu masih jarang terjadi. Kalau sudah begitu, para pelaku UKM tentu bisa mengadopsi aplikasi itu sebagai standar aplikasinya dengan biaya yang lebih terjangkau karena dipakai bareng-bareng dengan beberapa UKM lain.

Bagaimana porsi Private Cloud dan Public Cloud di Indonesia?

Saat ini, Private Cloud masih jauh lebih populer. Dibandingkan Public Cloud, 90 persen banding 10 persen. Hampir semua industri di Tanah Air, termasuk perbankan, telekomunikasi, plantation, cross-industry, sudah mengadopsi Cloud untuk infrastruktur IT-nya. Private Cloud.

Di Indonesia, siapa saja yang sudah mengadopsi Cloud milik IBM?

Kebanyakan perusahaan menerapkan teknologi Cloud sebagai bagian dari proses transformasi TI dan data center mereka. Kami membangun Private Cloud di data center mereka dan menjadikan mereka Cloud Service Provider.

Sebagian lain menggunakan layanan software yang disediakan oleh IBM SmartCloud Enterprise, nama untuk layanan IBM Cloud Service Provicer. Sebagai penyedia layanan Cloud, seperti halnya Amazon, RackSpace, Google, IBM juga memberikan layanannya dari sembilan Cloud Data Center yang tersebar di seluruh dunia, dan yang terdekat dengan Indonesia ada di Singapura.

Kapan Cloud bisa booming, seperti mesin ATM sekarang di Indonesia? Lima tahun lagi?

Sebenarnya, gong itu sudah dimulai tahun 2010, ketika industri-industri raksasa seperti perbankan dan telekomunikasi mengadopsi teknologinya untuk data pelanggan.

Namun, beberapa masih menggunakan data center di luar negeri, yang sebenarnya pengeluaran operasional itu bisa dipangkas lebih efisien jika memakai data center di dalam negeri.

Agenda terbesar kami untuk Cloud adalah berperan aktif dalam mengembangkan Standar Cloud yang interoperable, dan didasarkan pada kebutuhan pelanggan (user-driven).

Kami ingin memperkenalkan teknologi Cloud ke masyarakat luas dan memastikan masyarakat mengetahui apa sebenarnya teknologi Cloud dan menghilangkan kesalahan interpretasi bahwa Cloud hanya mengakses sumber daya TI lewat Internet dari Cloud Service Provider, dan Cloud hanya diterjemahkan sebagai sebuah bisnis model yang baru untuk TI.

Lima tahun lagi? Saya kira masih dalam proses adopsi. Pelan-pelan mulai massif, tapi mungkin di masih level enterprise. Perusahaan kelas menengah mulai mencoba pelan-pelan. Semua ini adalah rangkaian proses. Perjalanan panjang Cloud dimulai dari konsolidasi, virtualisasi, standarisasi, terakhir, automasi.

Dan, kami harus berdiri di sana untuk menyambut pasar IT Indonesia yang semakin hari semakin mature atau dewasa. (eh)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com