WAWANCARA
ANALISIS
"Jalur Mudik Pantura Selalu Hancur, Mengapa?"
Dia juga berbicara mengapa kementeriannya mendapat rapor merah.
Senin, 29 Juli 2013
Oleh : Antique, Alfin Tofler

VIVAnews - Umat Islam sebentar lagi akan merayakan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran. Sebab, tinggal 10 hari lagi bulan Ramadan akan meninggalkan kita.
Seperti biasa, orang yang akan pulang ke kampung halamannya mulai bersiap-siap. Bahkan, sejak jauh-jauh hari sebelumnya, mereka berlomba-lomba mencari tiket bus, kereta api, kapal laut, maupun pesawat terbang agar bisa mudik di tahun ini.

Tentunya, membludaknya pemudik setiap tahun akan selalu terjadi.  VIVAnews berkesempatan mewawancarai Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto, yang setiap tahun kementeriannya selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan dalam menyediakan jalan atau infrastruktur yang baik untuk para pemudik. 
Berikut kutipannya:

Bisa dijelaskan mengenai persiapan mudik dan penanganan jalan untuk Lebaran ini?
Kami kan selalu bilang, H-10 Lebaran, jalan sudah bisa dilewati dengan baik oleh para pemudik. Meski, sebenarnya mulai hari ini (Jumat, 26 Juli 2013) semua jalur Lebaran sudah siap untuk dilewati para pemudik.

Tapi sebelumnya, saya ingin menyampaikan tugas yang diemban Kementerian PU di bidang jalan.  Di Indonesia ada jalan nasional sepanjang 38 ribu kilometer.
Jalan sepanjang itu tidak boleh dibiarkan. Jadi, setiap tahun jalan sepanjang itu harus ada penanganan. Mulai dari pemeliharaan yang sifatnya rutin, ada yang lepas sedikit diperbaiki. Ada pemeliharaan berkala. Ada pengaspalan overlay (penutupan lapisan atas). Pemeliharaan berkala itu yang kita lakukan setiap tahun. Berkala itu 3-4 tahun.

Kegiatan lainnya di jalan nasional yang belum memenuhi standar itu kadang harus kami lebarkan. Jadi, ada pemeliharaan rutin berkala dan tempat tertentu melebarkan jalan. Lalu, di tempat-tempat tertentu juga perlu memperkuat pondasi jalan itu. Kadang harus kami ganti sama sekali jalan itu. Selain itu, kami juga membangun jalan baru.

Jadi, intinya pekerjaan kementerian terhadap jalan itu dilakukan setiap tahun, terus menerus, mulai yang ringan sampai yang paling berat hingga membangun jalan baru atau mengganti menjadi jalan beton.
Dalam melaksanakan pekerjaan itu, kementerian harus menggunakan anggarannya mulai dari Januari hingga Desember, sesuai dengan waktu yang ditetapkan pemerintah bahwa anggaran yang diberikan kementerian/lembaga itu harus bisa dimanfaatkan dari Januari-Desember.

Lalu untuk mempercepat pelaksanaannya, karena kalau pelaksanaan pekerjaan fisik seperti jalan, jembatan, irigasi, atapun waduk, itu kan memerlukan pelelangan. Jadi, kalau lelang Januari itu kan fisiknya baru bisa dimulai pada bulan Maret.

Sebab itu, untuk mencuri start beberapa tahun terakhir ini tender selalu kami lakukan semenjak Oktober dan November. Jadi, begitu ada persetujuan alokasi dari DPR, Kementerian PU dapat anggaran berapa walaupun belum ada

DIPA-nya, asal sudah ada kesepakatan pemerintah dan DPR, lelang kami laksanakan. Sehingga, pada Januari ada pekerjaan yang sudah dilakukan.
Memang tidak semua pekerjaan tendernya dilakukan November, tetapi bertahap. Tapi Januari itu banyak sekali pekerjaan yang sudah bisa kami lakukan dan harus selesai paling lambat Desember.

Lalu, dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan ini, terutama yang ada di jalan, kami harus memikirkan ada waktu 20 hari, yakni 10 hari sebelum dan sesudah Lebaran. Kepada konsultan kami minta Anda semua tidak boleh bekerja. Terutama, membuat jalan yang akan mengakibatkan lalu lintas terganggu.

Kalau membuat jembatan baru yang memang jauh dari keramaian, ya silakan saja. Tetapi, pada pengerjaan berkala pada saat overlay, karena itu kan mengganggu lalu lintas, otomatis tidak boleh dilakukan kegiatannya. Sekarang ini, semua lalu lintas tidak akan terganggu oleh kegiatan-kegiatan Kementerian PU dalam rangka tadi.

Saya akan mulai dari Sumatera. Jalur Lebaran itu ada lintas barat, lintas timur, dan ada lintas tengah. Beberapa waktu yang lalu, kegiatan yang masih mengganggu itu ada di Jambi, karena adanya longsoran. Tapi kalau sekarang, sudah aman dan bisa untuk dilewati.

Di Sumsel itu, jalur dalam kota Palembang juga sudah berfungsi sepenuhnya. Begitu pula di Lampung. Kalau yang lain-lain, semuanya sudah bisa berfungsi dan tidak mengganggu lalu lintas mudik Lebaran.

Kemudian di Padang, ada jalan Kelok Sembilan. Saya kira itu amat bagus dan kita ganti menjadi jembatan. Dulu, kalau mau ke Padang ke Pekanbaru pakai trailer itu tidak bisa, tetapi sekarang sudah tidak masalah. Sekarang sudah selesai dan mudah-mudahan akan bisa kami resmikan. Tergantung kesempatannya nanti, mungkin sehabis Lebaran.

Lalu ke Jawa. Di Jawa itu ada lintas utara. Di mana, yang menjadi jalur utamanya lintas selatan. Lintas utara itu ada 1.300 kilometer, sedangkan selatan 1.000-an kilometer. Beberapa waktu yang lalu, terutama Lebaran lalu itu ada yang menyatakan di wilayah Banten (Cilegon-Pasauran) sangat rusak.

Saya tinjau ke sana bersama Wapres Boediono dan sekarang ini saya kira sudah bagus dan beton semua, sehingga sudah lancar antara Cirebon Pasauran.
Kalau Jawa Barat itu, jalur Ciasem. Saya kira, beberapa minggu yang lalu ada pekerjaan di sana tapi sekarang sudah tidak ada pekerjaan lagi karena sudah bisa dilewati dengan aman.

Lalu kita bicara Jabar lainnya dan Jawa Tengah. Jabar itu paling tenar jalur Nagrek. Tapi yakin, hari ini tidak jadi masalah karena sudah cukup baik. Namun, nanti lewat Limbangan itu ada Gentong. Gentong itu posisinya sama kayak Nagrek, tempatnya sempit sehingga kemacetannya luar biasa.

Tahun ini, kami juga buatkan jalan alternatif paralel di atasnya, sehingga mudah-mudahan itu tidak macet lagi. Tahun kemarin kan, kemacetan dari Nagrek geser ke Gentong. Sekarang, kami harapkan tidak.
Memang sepanjang lintas selatan itu jalannya masih kurang lebar. Jadi, pas belokan-belokan dan pasar tumpah itu selalu ada kemacetan. Tetapi, ada beberapa yang kami sudah perlebar dan kami ganti.

Lalu Jateng, yang sangat fenomenal itu adalah masalah Pejagan Brebes. Pejagan Brebes itu ada terjadi lendutan jalan sehingga menjadi turun. Untuk itu, jalan itu harus dinaikkan dengan dibeton. Nah, pada waktu terjadi kemacetan karena memang sedang dibeton.

Tetapi mendekati Lebaran ini, beton yang belum selesai kami bereskan. Kemudian yang belum itu kami aspal sementara, supaya bisa dilewati saat Lebaran nanti. Jadi, intinya pekerjaan ini memang belum selesai tapi cukup baik untuk dilewati Lebaran tahun ini. Begitu Lebaran akan kita selesaikan pembetonannya

Di samping itu, khusus Semarang. Dulu, di depan airport juga biangnya kemacetan. Di situ, kami buatkan flyover/FO (jalan layang) Kalibanteng. Tahun kemarin belum selesai, tetapi tahun ini sudah bisa fungsional semua. Meskipun pekerjaan masih ada, seperti penyempurnaan sana sini tapi sudah bisa difungsikan seratus persen.

Lalu jalan Jonggor di Yogyakarta itu juga biangnya kemacetan. Di tempat pertemuan itu kami buatkan FO. Tapi belum selesai, baru 50 persen tapi saya kira bisa dipakai satu jurusan saja. Ini bisa mengurangi kemacetan.
Kalau di Jawa Timur itu di Tuban. Tetapi sudah dicek oleh Sekretaris Jenderal Kementerian PU bisa lancar.

Lalu di Kombang atau FO Peterongan. Itu juga sudah bisa fungsional, walau 10 persen belum tapi tinggal pasang rambu-rambu lalu lintasnya saja. Itu sudah bisa mengurangi kemacetan, sehingga akan lebih ringan dari tahun sebelumnya.
Lalu untuk Bali, kemacetan itu yang sangat sering terjadi di simpang Dewaruci, itu luar biasa. Sekarang, sudah selesai 100 persen underpass-nya (terowongan) di sana. Dulu kan satu bidang, sekarang kemacetan itu bisa diurai.

Jadi itu intinya yang ingin saya sampaikan, kalau sekarang atau H-10 jalur Lebaran sudah siap digunakan untuk para pemudik untuk menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing.

Pembenahan itu kenapa seperti itu dan terus menerus? Kenapa selalu ada pengerjaan menjelang hari H Lebaran?
Jalan kita ini kan ada 38 ribu kilometer dan itu tidak boleh kami biarkan. Dan kondisinya, ada yang amat baik, baik, dan tidak baik. Kalau yang masih baik, paling kami lakukan pemeliharaan rutin. Kalau tidak baik, kami overlay. Kalau baik, ya tidak kami apa-apakan. Ada yang masih baik, tetapi ada tuntutan untuk melebarkan itu juga kami lebarkan.

Jadi, memang di semua ruas di seluruh Indonesia selalu ada pekerjaan. Pekerjaannya itu, ya mulai dari ringan, berkala mengganti, dan membangun baru. Sebab itu, pasti ada kegiatan.

Apalagi kalau bicara Pantura. Pantura itu kan sepanjang 1.300 kilometer. Itu kan, di mana ada Brebes dan Tegal, yang tidak sama perbaikannya setiap tahunnya. Kalau pun ada yang sama perbaikannya, dilihat dong itu ada di kilometer berapa.

Sekarang, saya juga masih yakin dan siap kalau ada pertanyaan setahun lagi itu kok di Brebes masih ada kegiatan. Karena memang, masih ada yang harus kami perbaiki, ya itu akan kami perbaiki. Jabar ada tujuh jembatan yang mengalami pergantian konstruksi.

Kondisinya saat ini bagaimana?
Sekarang ini, semua jalan atau jembatan flyover itu seperti yang saya sampaikan tadi siap untuk dilewati.

Kendaraan tonase berat kan dianggap penyebab kerusakan jalan, tetapi mengapa masih saja dibolehkan lewat hingga saat ini?
Jadi, kalau bicara masalah itu, kita bicara permasalahan koordinasi. Kami sudah lakukan, bahkan dimonitor oleh Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Jadi, kami sudah bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian, Perhubungan, dan sebagainya.

Kami hanya sebagai pembuat jalan,  jika dilewati kendaraan yang terlalu berat, yang kewenangannya bukan di Kementerian PU untuk melarang, kami memang hanya memberikan saran. Tapi kalau dilarang kendaraan overload total hingga nol persen, nanti transportasi barang juga akan tersendat. Jadi, itu dilakukan dengan pelan pelan.

Namun, kini persentase overload itu sudah menurun. Jadi, dari Kementerian Perhubungan sudah mulai agak tegas, ditahan tidak boleh lewat. Itu mulai kurang sedikit demi sedikit.  Dan kami sudah usulkan kepada industri karoseri, kendaraan yang besar-besar itu untuk menambah sumbu. Sudah kami bahas, tetapi belum sampai pada pembahasan yang butuh action plan apa. Namun, bahwa arah ke sana itu sudah kami lakukan semua.

Perlu saya sampaikan, kami itu memberi peraturan itu MST 10 ton. Yang lewat kemarin itu dicek sama Dirjen Bina Marga, Komisi V DPR itu jauh di atas 10 ton, bahkan 20 ton.

Mungkin Anda mengira, kalau 10 ton ke 20 ton itu daya rusaknya mejadi dua kali lipat. Tidak. Daya rusaknya sampai 16 kali lipat. Jadi, kalau ada muatan sumbu terbesar itu 10 tapi yang lewat 20, daya rusaknya dua pangkat empat. Jadi 16 kali.

Jalan mana yang paling cepat rusaknya?
Kalau jalan-jalan mana itu yang paling cepat mengalami kerusakan, ya jalan di Pantura dan lintas timur Sumatera. Yang lewat itu luar biasa.

Pantura itu kami pernah pasang alat hitung. Itu alatnya kami taruh berapa bulan di sana, kelihatan berapa jumlah kendaraan berat dikalikan jumlahnya. Itu namanya satuannya ESAL (equivalent single axle load) atau angka ekivalensi beban sumbu kendaraan. Itu alternatif jumlah kendaraan dan beratnya.
Kalau sedan yang lewat, itu ESAL-nya hampir tidak ada. Tapi untuk Pantura, kendaraan beratnya bisa mencapai 124 juta ESAL.

Nah, sekarang kalau kami buat jalan aspal biasa itu namanya flexible pavement, itu hanya kuat sampai 30 juta ESAL dan di atas itu sudah tidak boleh lewat. Tapi, kalau dipaksakan juga bisa sampai 50 juta ESAL.

Makanya, kalau jalan aspal di Pantura itu akan selalu hancur karena paling aspal itu 30 hingga 50 juta ESAL kekuatannya. Sedangkan kendaraan yang lewat itu bisa mencapai 124 juta, jadi pasti hancur. Sebab itu, semua jalan yang umur-umurnya rusak di Pantura itu kami ganti dengan beton.

Artinya, kalau berat bebannya itu harus dengan beton atau bisa aspal tapi dengan kualitas high performance flexible pavement. Itu ada campuran-campuran tertentu.

Pantura itu kalau ada yang rusak, diganti dengan beton. Tetapi, ada tempat-tempat yang memang tidak bisa menggunakan beton karena pengerjaan beton itu kan lama.  Dan di sana, kalau pakai beton itu macetnya akan luar biasa.

Akhirnya, ya caranya tadi, pakai high performance itu. Jadi, antara lain itu dengan namanya recycling. Jadi, jalan itu dikeruk sampai tanah dasar lalu ditambahkan aspal dengan campuran semen menjadi bagus sekali. Nah, sampai hari ini yang sudah sempat kami ganti beton itu 229 kilometer.

Jalur Pantura tidak semuanya diganti dengan beton?
Jadi, secara bertahap mengganti dengan beton. Kan sudah 229 kilometer, ada juga yang kami recycle dengan high performance tadi sepanjang 106 kilometer. Nah, semoga itu bisa diandalkan.

Tapi kan, panjang Pantura kalau dari Banyuwangi itu 1.300 kilometer. Jadi, memang masih sangat kecil. Sebab itu, kalau ada tahun depan disambung lagi, ya akan dikerjakan lagi.

Tapi kami tidak bisa, jika punya anggaran untuk 50 kilometer kami langsung ganti sepanjang 50 kilometer berbarengan. Itu kan artinya, selama setahun tidak boleh ada kendaraan yang lewat. Saya kira itu tidak mungkin.

Makanya, kalau kami punya beban tahun depan itu gantinya per dua kilometer atau tiga kilometer di lain tempat. Ini memberikan kesempatan agar ekonomi kita tidak mati. Memang, kami bisa saja membeton semuanya. Tetapi kan, dari segi pelaksanaannya itu sangat sulit untuk secara besar-besaran ganti bersama-sama dari yang ada menjadi beton.

Itu yang kadang-kadang yang memberikan kesan, kok ada pekerjaan pembetonan berulang-ulang. Kalau Anda teliti, coba dicatat ada kegiatan di KM berapa, saya jamin pasti tahun depan tidak akan ada pekerjaan yang sama di kilometer itu.

Lokasinya detailnya di mana aja?
Yang 229 kilometer itu tidak bisa dilihat satu hamparan. Ada yang di Brebes, ada juga di lokasi lainnya. Tetapi kalau mau lihat yang panjang itu ada dari Semarang ke Demak, itu semuanya sudah dibeton. Demak sampai Kudus. Itu tersebar pokoknya. Saya tidak hafal kilometernya berapa.

Tambahan anggaran Rp1,2 triliun dalam APBN 2013 itu untuk pemeliharaan atau untuk apa saja serapannya?
Ya itu tadi untuk pelebaran, recycle, semuanya masuk ke sana. Pemeliharaan rutin berkala overlay, bangun jembatan juga pakai itu. Progres penyerapan dana, saya kira sekitar 40 persen. Nanti, akan diselesaikan setelah Lebaran tahun ini.

Kementerian PU itu bisa bangun jalan yang bisa tahan sampai berapa lama?
Kalau secara teoritis itu bisa 20 tahun lebih. Untuk 10 ton MST bisa sampai 20 tahun.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kabarnya sudah menemukan kejanggalan, bagaimana tanggapan Anda?
Masalah KPK, saya tidak pernah mendengar sendiri statement-nya. Kalau yang saya dengar, KPK itu mengatakan sudah banyak laporan yang datang dari masyarakat.

Tapi yang saya dengar dari Johan Budi (Juru Bicara KPK), itu dia bilang banyak laporan dan perlu dievaluasi saha. Ya intinya, kalau masalah pemberantasan korupsi itu sudah jadi tekadnya seluruh rakyat Indonesia, jadi siapa pun tidak boleh melakukan korupsi. Dan untuk itu, kalau memang KPK memeriksa, ya memang kewajibannya mereka kalau memang ada yang harus ditelusuri.

Saya belum melihat statement resmi dari KPK. Ini cuma karena di sini ngomong, di sana ngomong. Bisa pelintir sana, pelintir sini. Saya mendengarkan baik-baik, waktu Juru Bicara KPK bicara, katanya belum ada kesimpulan dan akan dipelajari. Jadi itu saja. Intinya, tidak boleh ada dari kita yang tidak mendukung jika ada pemberantasan korupsi.

Ada kualitas yang mungkin saja diturunkan oleh kontraktor pada saat pelaksanaan konstruksi di lapangan. Bagaimana menurut Anda?
Soal quality control itu, sebelum melakukan pengecoran, kontraktor harus ikut uji laboratorium dulu. Kemudian, ada ketebalan. Itu sebelum pekerjaan sudah ada sertifikasi.

Jadi, kualitas itu dilakukan saat pengerjaan. Namun, setelah pengerjaan juga ada pengecekan teknis dan itu dilakukan oleh inspektorat. Dan KPK tahu persis ini sejak 2008. Dan KPK itu rekomendasinya labnya disertifikasi dan kami sudah melakukan itu. Sebab itu semua dilakukan setelah dan sebelum konstruksi.

Soal laporan Ombudsman. Apa yang membuat rapor Kementerian PU diberikan merah oleh Ombudsman?
Saya juga baru diberitahu sebetulnya, karena tidak ada informasi. Akhirnya, kami tanyakan mengapa. Namun, yang pasti saya berterima kasih pada Ombudsman yang mengeluarkan statement itu, dan yang pasti karena itu bisa memberikan semangat untuk menginstrospeksi diri.

Lalu ketika kami tanya, apa sih sebenarnya yang mau dicari mereka. Ternyata, Kementerian PU itu yang tercatat di sana (rapor merah) soal pemberian izin kepada badan usaha konstruksi asing yang akan bekerja di Indonesia. Jadi, soal mereka yang minta izin.

Misalnya kalau saya, perusahaan Jerman ingin bekerja di Indonesia itu daftar. Itu kan, jumlahnya mungkin dalam 10 bulan tidak ada satu atau dua. Sekarang yang diperiksa, mana tempat antreannya. Kalau antreannya panjang, di mana tempat duduknya.

Jika, misalnya, yang antre perempuan sedang menyusui, di mana tempat menyusuinya dan penitipan anak. Itu yang dicari, itu sebenarnya ada, untuk penitipan bayi di sini ada. Di sini penitipan anak juga ada. Untuk orang cacat itu WC-nya ada sendiri.

Dan waktu kami diperiksa, saya tidak tahu semua karena itu pekerjaannya ada di Badan Pembinaan Konstruksi. Waktu itu, mereka masih sibuk untuk pindah dari tempat lama ke gedung baru. Jadi mungkin, waktu petugas itu datang tidak ada yang ditanyai.

Mereka juga lihat, tidak ada loket pemberian izin, tidak ada ongkosnya sekian dan lamanya sekian. Tidak ada yang ditanya. Padahal sebenarnya, sudah ada di Permen PU No.05. Itu mengatur, dia harus lapor kelengkapannya apa, lamanya berapa, itu ada semua.

Jangka waktu penyelesaiannya juga ada. paling lambat untuk izin tidak pernah lebih dari 16 hari. Jadi, kalau dia bawa bundle itu ksmi periksa, dicocokkan itu tidak pernah lebih dari 16 hari.

Tetapi yang seperti ini, di Ombudsman dibilang penilaiannya tidak ada. Mungkin waktu itu tidak ada yang bisa ditanya. Jadi, waktu dicek itu mereka tidak ketemu bayarnya berapa dan lamanya berapa. Padahal itu ada semua. Untuk tempat antre atau loket itu, apa perlu untuk melayani orang yang sebulan satu dan apa ditunggui terus.

Yang penting adalah hingga hari ini tidak ada satu pun perusahaan asing yang mendaftarkan diri ke sini dan merasa kecewa. Mereka semua puas, karena bisa selesai kurang dari 16 hari. Tetapi, karena sudah dikasih rapor ya sudah. Saya tidak tahu juga yang menilai kami.

Saya juga tidak tahu, apakah harus ada loket juga nanti. Mudah-mudahan nanti lengkaplah. Yang jelas, karena ada orang yang memaparkan temuan, tentu akan kami perhatikan baik-baik. Yang pasti bahwa itu hanya tidak ada yang menjelaskan dengan baik, karena masih sibuk dalam rangka pindah ke gedung baru ini.

Artinya, waktu pengecekan, tidak ada orang karena banyak yang masih kosong. Ya, akhirnya kita dapet nomer paling buncit. Kalau ditanya ada kontraktor asing yang kecewa, saya kira tidak karena kami bekerja sudah baik.

Soal Waduk Way Ela, kenapa bisa terjadi, padahal Kementerian PU sudah tahu sejak lama ada bendungan alam seperti ini?

Jadi begini, beberapa tahun lalu itu ada tebing yang runtuh di Ambon dan menutup kali dan membentuk waduk alam. Kemudian, ada kayu di sana yang menumpuk, terus ada tanah dan membendung sendiri. Di sana airnya menjadi tinggi. Waktu itu, kami semua ke sana dan ini mau kami apakan. Apakah mau kami bongkar atau diapakan? Apa yang mau kita tetapkan.

Lalu, disepakati akan dijadikan bendungan tetap karena bagus kan airnya bisa dipakai untuk cadangan. Tetapi supaya aman itu kita buatkan pengerjaan spillway atau jalur pembuangan air. Jadi, kalau hujannya besar itu bisa kami limpahkan.

Akhirnya, terjadilah waduk alam. Setelah kami cek ke sana, waduk alam ini cukup kuat. Kepadatannya dan kebocorannya itu cukup kuat. Itu mau kami bikin permanen, dibuatkan bangunan pengamannya yakni spillway.

Baru dalam proses itu dan menurut perhitungan kami, banjir hujan maksimum datang akhir Agustus, ternyata datang lebih dahulu dan meluap di situ. Lalu, apa yang kami bangun sekarang jadi rusak dan menyebabkan korban jiwa.

Padahal, di sana itu sudah ada warning system dan itu bekerja. Jadi, kalau ada air sekian itu warga harus mengevakuasi dirinya dan sebagian desa sudah mengevakuasi dirinya. Tapi memang. ada yang belum dan ada yang hilang satu. Saya juga prihatin sampai terjadi seperti itu. Dan beberapa teman dari SDA (Sumber Daya Air) Kementerian PU akan berangkat ke sana untuk melihat.

TERKAIT
TERPOPULER