WAWANCARA KHUSUS

BJ Habibie:

Dolar Naik, Kita Masih Terlalu Berorientasi Impor

"Kita ini harus tahu apa yang membuat unpredictable, koreksi di situ."

ddd
Senin, 9 September 2013, 00:09 Ita Lismawati F. Malau, Herdi Muhardi
Mantan Presiden BJ Habibie
Mantan Presiden BJ Habibie ( ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

VIVAnews - Rupiah terus melemah sejak beberapa waktu terakhir. Bahkan, pertengahan Agustus lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar tembus angka Rp10 ribu per dolar AS dan terus melemah hingga menyentuh Rp12.000 per dolar AS. Harga-harga barang yang bersentuhan dengan kegiatan impor pun merangkak naik.

Mantan Presiden RI, Bacharuddin Jusuf Habibie, angkat suara mengenai pelemahan rupiah ini. Di masa dia memimpin negeri ini, rupiah pernah menguat dari kisaran Rp17 ribu menjadi sekitar Rp6.500 per dolar AS.

Habibie mengakui, dia bisa mengambil kebijakan yang tepat saat itu karena didukung oleh data-data.

BJ Habibie yang lahir 23 Juni 1936 ini mewarisi kondisi Indonesia yang kacau balau akibat krisis moneter. Dia menjadi Presiden RI ketiga sejak 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999. Saat itu, Habibie menggantikan Soeharto yang lengser dari kursi presiden akibat gelombang demonstrasi mahasiswa yang menuntut reformasi.

Sebelum menjabat sebagai Presiden RI yang ketiga, lulusan teknik mesin Institut Teknologi Bandung ini pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI dan Menteri Riset dan Teknologi. Jabatan menteri riset dia pegang sejak tahun 1978 sampai Maret 1998.

Apakah Habibie bisa memberi masukan bagi pemerintah dan kalangan pengusaha untuk menguatkan rupiah saat ini? Berikut petikan wawancara Habibie, di sela-sela perayaan HUT Aliansi Jurnalis Independen baru-baru ini:

Komentar Anda mengenai pelemahan rupiah saat ini?
Saya tidak bisa memberikan komentar karena saya tidak tahu rinci. Saya kan tidak punya data kurs, perkembangannya. Tidak mungkin, nanti saya dibilang ngawur.

Bagaimana Anda bisa membuat rupiah menguat saat menjadi presiden?

Saya tidak mungkin mengambil kebijaksanaan berdasarkan data-data yang tidak saya kuasai dan dimiliki. Tapi, pada prinsipnya ada untung ruginya.

Salah satu yang diuntungkan dari menguatnya dolar ini adalah produksi dalam negeri. Misalnya, kita beli buah-buahan. Semua pepaya yang diimpor itu kini jadi lebih mahal daripada buatan dalam negeri.

Tapi, masalahnya kita ini masih berorientasi pada barang impor. Saya pernah dapat laporan soal pepaya buatan dalam negeri yang enak dan mudah dikembangkan. Tetapi, susah dipasarkan.

Nah, waktu ada yang kasih nama keren dan berbau luar negeri, langsung itu pepaya laku. Hahaha.

Sebetulnya, perusahaan-perusahaan yang memakai bahan baku dalam negeri harus memanfaatkan dan sebetulnya diuntungkan. Sebab, perusahaan-perusahaan yang memakai bahan baku impor jadi kewalahan. Perusahan yang tidak produksi di sini, impor, mati kutu juga dia. Karena mahal kan. Nah, pasar itu bereaksi atas harga.

Apakah kenaikan dolar ini wajar?

Kalau saya lihat dari sudut kepentingan proses dalam negeri yang menguntungkan. Saya kan sudah bilang tadi, kalau saya melihat dari pabrik pembuat tahu dan tempe di mana kedelainya masih diimpor, ya kewalahan.

Nah ditambah lagi kita harus lihat dari situ. Jadi kita harus detail, tidak fair kalau saya bilang saya tahu.

Saran Anda?
Kita harus belajar dari sini. Orang yang masih impor, supaya dia bekerja sama dengan pengusaha di sini. Atau, dia meyakinkan orang yang selalu ekspor ke Indonesia, untuk investasi saja di sini.

Bagi saya, tidak penting siapa pemilik perusahaan itu karena mereka membayar pajak dan dia menyediakan lapangan kerja. Yang kita butuhkan adalah lapangan kerja.

Jadi perusahaan yang dimiliki siapapun saya tidak peduli selama itu legal dan dia bayar pajak, produksi naik, dan dia berikan lapangan kerja yang cukup, ya harus kita bina dong.

Kita juga harus hilangkan subsidi. Alasannya, subsidi bahan bakar minyak itu menguntungkan orang yang sebenarnya yang tidak butuh subsidi. Siapa? Ya rakyat yang sebagian besar sudah punya mobil dan sepeda motor.

Yang harus mendapat bantuan itu yang tidak punya kendaraan, kita bisa atur itu secara lain. Bisa saja dari situ. Jangan kita ini terlalu banyak ditentukan orang lain.

Dan semua itu harus predictable artinya harus bisa ditentukan sebelumnya. Kalau unpredictable, jadi seperti orang yang bertaruh atau gambling. Gambling cost-nya tinggi. Nah kita ini harus tahu apa yang membuat unpredictable, koreksi di situ.

Tapi persisnya apa dan bagaimana?
Saya tidak tahu karena saya tidak memiliki data-data. Saya tidak bisa memberikan komentar persis.

Tapi, salah satunya mengutamakan produk lokal?
Dalam hal ini saya menyarankan supaya kita sekarang berorientasi mengkonsumsi produksi dalam negeri. Dan produksi dalam negeri identik dengan jam kerja untuk dalam negeri, dan lapangan kerja. Itu yang penting.



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
tonibrakot
09/09/2013
Di Indon ini Cuma masalah hokum yg berkembang.
Balas   • Laporkan
tonibrakot | 09/09/2013 | Laporkan
Yang kita butuhkan adalah nada yg tepat utk beresonansi dg public ..


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com